Kamis, 02 Mei 2013

ANALISIS SOAL PILIHAN GANDA

Tulisan ini merupakan hasil pelaksanaan tindak kepemimpinan berdasarkan hasil Evaluasi Diri Sekolah (EDS) 2012 pada On the Job Learning (OJL) Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Calon Kepala Sekolah Tahun 2013.
Oleh: Drs. Muslimin Kanafi, M. Pd. Guru SMP Negeri 7 Tarakan.
PEMANFAATAN MS. EXCEL UNTUK ANALISIS SOAL BERBENTUK PILIHAN GANDA sebagai upaya peningkatan penyelenggaraan pendidikan di SMP Negeri 7 Tarakan
Analisis hasil tes memerlukan beberapa formula matematis. Karena itu, perlu pemahaman terhadap konsep-konsep formula tersebut dan juga kemampuan menerapkannya. Penghitungannya pun apabila dilakukan secara manual tentu saja memerlukan waktu yang tidak sedikit sehingga diperlukan sarana yang dapat membantu penghitungan ini.
Salah satu aplikasi yang umum dan sudah dikenal di semua kalangan masyarakat adalah Microsoft Excel. Software ini merupakan aplikasi pengolah data dan dapat digunakan untuk membuat penghitungan otomatis, termasuk analisis hasil tes. Namun hingga kini, aplikasi komputer ini belum digunakan secara optimal untuk hal tersebut.
a. Pelaksanaan Rencana Tindakan 1
1) Persiapan
Pada tahapan ini, upaya yang dilakukan adalah mengidentifikasi permasalahan guru dalam menganalisis soal berbentuk pilihan ganda. Masalah ini disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya:
a) Masih adanya guru yang belum begitu memahami dan mampu menerapkan penghitungan yang digunakan dalam menganalisis hasil tes;
b) Bagi guru yang sudah memahami dan mampu menerapkan penghitungan pun mengalami kejenuhan dalam melakukan analisis yang begitu rumit dan menyita waktu;
c) Meskipun di antara guru sudah dapat mengoperasikan komputer, khususnya aplikasi Microsoft Excel namun masih belum mampu membuat aplikasi sendiri yang dapat digunakan untuk menganalisis hasil tes;
d) Meskipun sudah beredar aplikasi siap pakai untuk pekerjaan ini di masyarakat, namun aplikasi tersebut tidak dapat dimodifikasi sesuai kebutuhan dan perubahan sistem evaluasi yang berkembang, kecuali dengan meng-upgrade aplikasi tersebut, dan tentu memerlukan biaya yang tidak sedikit; dan
e) Bagi guru yang mampu menganalisis dan juga mampu mengoperasikan aplikasi yang umum, yaitu Microsoft Excel, masih belum sepenuhnya menguasai bagaimana mengembangkan aplikasi tersebut dengan fasilitas penghitungan yang tersedia di dalamnya. Karena hal ini menuntut ketekunan guru dalam membuatnya.
Penyebab di atas menjadi inspirasi untuk membuat sendiri sebuah software ANALISIS TES PILIHAN GANDA dengan menggunakan software yang sudah dikenal secara luas, yaitu Ms. EXCEL. Pembuatan aplikasi ini didasarkan pada pengalaman selama menjadi guru Teknologi Informasi dan Komunikasi, khususnya materi Ms. Excel dan latar belakang pendidikan terakhir, yaitu evaluasi.
Aplikasi komputer yang dirancang dan dikembangkan dengan menggunakan perangkat lunak Microsoft Excel ini ditujukan untuk membantu rekan-rekan memahami dengan mudah konsep-konsep penghitungan yang digunakan dalam analisis tes berbentuk pilihan ganda berbasis kelas dan dengan cepat memperoleh hasil analisisnya, sehingga dapat diinterpretasikan dengan baik.
2) Pelaksanaan
Produk ini sudah sejak lama digunakan oleh rekan-rekan guru di SMP Negeri 7 Tarakan, bahkan menjadi bagian tugas yang dituntut oleh pihak sekolah dengan bukti fisik print outnya. Hingga pada tahapan ini masih ada guru yang melakukannya, yaitu mengoreksi hasil UTS yang baru saja dilewati. Selama ini pemanfaatan software ini hanya sebatas untuk mengoreksi, karena sangat membantu guru memperoleh hasil lebih cepat. Pada kesempatan OJL inilah, pemanfaatannya dilatihkan lebih jauh lagi.
3) Monitoring dan Evaluasi
Hasil pemantauan menunjukkan, bahwa guru-guru tidak menghadapi kendala serius dalam menginput data. Hal ini karena software sudah sejak lama digunakan. Instrumen evaluasi yang digunakan adalah angket untuk mengetahui sejauhmana tingkat pemahaman guru terhadap teori-teori pendukung software (pengetahuan prasyarat). Hasil angket dari 12 orang guru, adalah sebagai berikut: rendah sebanyak 2 orang, cukup 6 orang, dan yang tinggi 4 orang. Rata-rata untuk pengetahuan prasyarat ini adalah 48 masuk dalam klasifikasi cukup. Lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik berikut:
clip_image002
b. Pelaksanaan Rencana Tindakan 2
1) Persiapan
Langkah awal yang dilakukan sebelum pelaksanaan rencana tindakan 2 ini, adalah berdiskusi dengan kepala sekolah tentang upaya meningkatkan standar penilaian melalui analisis (telaah) butir soal pilihan ganda. Usul yang disampaikan adalah mengadakan pelatihan. Setelah mendapat respon positif dari kepala sekolah, maka upaya pertama adalah melakukan koordinasi dengan pihak terkait di sekolah, termasuk tenaga administrasi sekolah menyangkut kegiatan tersebut, di antaranya menyusun jadwal, mempersiapkan materi dan softwarenya, presensi, angket, undangan, ruangan, peralatan, dan konsumsi.
Akhirnya, kegiatan dijadwalkan pada hari Sabtu, tanggal 9 Maret 2013. Pelatihan dibagi menjadi 2 (dua) bagian: pertama, berisi penyampaian materi (teori) dan praktik input data, dan kedua berupa praktik nyata.
2) Pelaksanaan
a) Jadwal pelatihan
Pelatihan dibagi menjadi 2 (dua) sesi, pertama penyampaian materi pada hari Sabtu, 9 Maret 2013. Materinya adalah yang menyangkut teori tentang analisis butir soal pilihan ganda agar menjadi acuan untuk memahami hasil analisis, yaitu: pembelajaran tuntas (mastery learning) dan karakteristik butir soal (tingkat kesukaran dan validitas butir). Bagian kedua, praktik nyata menginput data dari hasil ulangan berbentuk pilihan ganda yang telah diujikan. Waktunya adalah selama 2 (dua) minggu setelah pelatihan bagian pertama dilaksanakan.
b) Materi
Penghitungan yang digunakan dalam menganalisis hasil tes bentuk pilihan ganda dapat digunakan guru untuk memperoleh informasi:
i. Mastery Learning
Bloom (1968) dan Block (1971) mengemukakan bahwa mastery learning (pembelajaran tuntas) merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang berdasarkan asumsi bahwa setiap siswa mampu mencapai tujuan pembelajaran dengan waktu dan cara yang berbeda (Woolfolk & Nicolich,1984: 572). Selanjutnya dijelaskan, bahwa dengan pendekatan ini siswa harus mencapai taraf penguasaan minimal yang ditentukan untuk bisa melanjutkan ke unit lainnya. Sebaliknya, siswa harus mengulanginya. Dengan kata lain data yang diperoleh dapat digunakan untuk mempertimbangkan upaya perbaikan (Depdikbud, 1999).
Ketidaktuntasan belajar dapat diketahui dengan menghitung persentase jumlah jawaban salah pada setiap butir soal. Dengan demikian dapat diketahui ketidaktuntasan pada kompetensi dasar, materi, atau pun indikator pencapaian hasil belajar baik secara individu ataupun klasikal. Hal ini penting untuk pengembangan tes diagnostik. (Depdiknas, 2003)
ii. Karakteristik Butir Soal
a. Tingkat Kesukaran (Item Difficulty)
Tingkat kesukaran menunjukkan kualitas butir soal apakah termasuk mudah, sedang, atau sukar. Tingkat kesukaran ini diperoleh dengan menghitung persentase jumlah jawaban siswa yang benar. Butir soal dikatakan mudah jika sebagian besar peserta tes menjawab dengan benar dan sebaliknya, dikatakan sukar jika sebagian besar tidak dapat menjawab dengan benar. Fernandes (1984: 26) memberikan 2 (dua) alasan pentingnya menentukan tingkat kesukaran, yaitu:
(1) Menentukan rerata skor yang sama dengan p x n, dimana p adalah rerata kesukaran butir sedangkan n jumlah butir;
(2) Mempengaruhi bentuk dan sebaran skor tes
b. Validitas Butir
Validitas butir dapat dihitung menggunakan formula Product-moment Correlation yang mengkorelasikan antara skor butir dengan skor totalnya (Fernandes. 1984: 28). Validitas butir adalah sama dengan validitas kunci. Dengan rumus yang sama dapat ditemukan validitas pengecohnya. Hanya saja dalam interpretasinya berbeda. Butir tidak valid dinyatakan dengan koefisien negatif, sedangkan untuk pengecoh adalah koefisien positif.
3) Monitoring dan Evaluasi
Pemantauan dilakukan selama praktik nyata menggunakan hasil tes yang telah diberikan sekaligus pendampingan saat rekan guru melakukan analisis dengan software yang diberikan. Selama praktik nyata input data, kendala yang dihadapi hampir tidak ada, hanya kendala teknis, seperti terhapusnya rumus dalam sel secara tidak sengaja. Kendala ini dapat segera teratasi.
Instrumen yang digunakan juga berupa angket untuk mengetahui:
a) Tingkat pemahaman pengguna terhadap software yang diberikan. Dalam hal ini diperoleh 3 (tiga) orang tergolong tinggi, yang sangat tinggi sebanyak 9 orang. Rata-ratanya 93 (sangat tinggi);
b) Peningkatan pemahaman pengetahuan prasyaratnya, ada 1 orang masih rendah, 2 orang cukup, 4 orang tinggi, dan 4 orang sangat tinggi. Rata-rata peningkatan pemahaman adalah tinggi (67)
Gambaran perolehan angket hasil evaluasi baik pada pengetahuan prasyarat, pemahaman software, maupun peningkatan pemahaman pengetahuan prasayaratnya, dapat dilihat pada grafik ini:
clip_image004
4) Refleksi
Upaya yang dilakukan selama pelaksanaan tindakan ini memberikan pengalaman berharga bagaimana mengupayakan untuk meningkatkan kompetensi yang dimiliki oleh rekan-rekan guru, sehingga mendukung proses pendidikan yang terjadi di sekolah. Dengan demikian, diharapkan terjadi suasana kondusif di lingkungan sekolah, khususnya guru, untuk meningkatkan lebih jauh kompetensinya, terutama kemampuan menelaah dan menginterpretasi hasil ulangan yang diberikan kepada siswanya.
5) Hasil
Pengalaman nyata di dunia kepemimpinan ini sungguh tidak dapat dielakan lagi tidak hanya meningkatkan kualitas diri tetapi juga kualitas penyelenggaraan yang ada di SMP Negeri 7 Tarakan, yaitu meningkatkan standar penilaian melalui peningkatan kemampuan guru dalam menelaah butir soal pilihan ganda.
Demikian, semoga bermanfaat.
Foto-foto:
clip_image006
Menjelaskan teori analisis soal pilihan ganda
clip_image008
Membimbing guru menganalis hasil ulangan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar