Jumat, 31 Mei 2013

PENGGUNA PROGRAM ANALISIS PILIHAN GANDA

NO.

NO. REGISTRASI

Nama

STATUS

1

2013030001

ANI FITRIANI

MAHASISWA FKIP UBT

2

2013030002

DEDE RUSDIANSYAH

MAHASISWA FKIP UBT

3

2013030003

CANDRA BINTANG S.

MAHASISWA FKIP UBT

4

2013030004

WITRI

MAHASISWA FKIP UBT

5

2013030005

MAISAROH

MAHASISWA FKIP UBT

6

2013030006

HILDA ASTUTI

MAHASISWA FKIP UBT

7

2013030007

KUMALA

MAHASISWA FKIP UBT

8

2013030008

NURATIJA

MAHASISWA FKIP UBT

9

2013030009

NITA PERMATASARI

MAHASISWA FKIP UBT

10

2013030010

AN NISSA FITRIA

MAHASISWA FKIP UBT

11

2013030011

AZLISA A.K.P.

MAHASISWA FKIP UBT

12

2013030012

NOVIA WULANDARI

MAHASISWA FKIP UBT

13

2013030013

ACHMAD ERRIE DIRU

MAHASISWA FKIP UBT

14

2013030014

DIAN RINALDI

MAHASISWA FKIP UBT

15

2013030015

ANGGA HADIWIBAWA

MAHASISWA FKIP UBT

16

2013030016

SINTA

MAHASISWA FKIP UBT

17

2013030017

TOMMIE MIGO

MAHASISWA FKIP UBT

18

2013030018

EKA AGUNG M.C.

MAHASISWA FKIP UBT

19

2013030019

NUR ALAM

MAHASISWA FKIP UBT

20

2013030020

LUSITA SARI

MAHASISWA FKIP UBT

21

2013040021

NASRUDIN

MAHASISWA FKIP UBT

22

2013040022

NUR EFI

MAHASISWA FKIP UBT

23

2013040023

ABI AUFATURRAHMAN

MAHASISWA FKIP UBT

24

2013040024

THOMAS MULIADI

MAHASISWA FKIP UBT

25

2013040025

ROSDIANA

MAHASISWA FKIP UBT

26

2013050026

REGA ANANTYA RINALDY

MAHASISWA FKIP UBT

27

2013050027

MARLENA

MAHASISWA FKIP UBT

28

2013050028

SARINAH

MAHASISWA FKIP UBT

29

2013050029

SUMIYATI

MAHASISWA FKIP UBT

30

2013050030

DEWI YUNITA

MAHASISWA FKIP UBT

31

2013050031

KURNIA YULIATI

MAHASISWA FKIP UBT

32

2013050032

MAISITA ALANG

MAHASISWA FKIP UBT

33

2013050033

SANCHIA CHRISTA

MAHASISWA FKIP UBT

34

2013050034

SITI SARAH

MAHASISWA FKIP UBT

35

2013050035

M. AGUSRIANTO

MAHASISWA FKIP UBT

36

2013050036

RIKA MINA

MAHASISWA FKIP UBT

37

2013050037

AIDA

MAHASISWA FKIP UBT

38

2013050038

TRI AGUS SUTANTIA

MAHASISWA FKIP UBT

39

2013050039

RIAN PADJERIANSYAH

MAHASISWA FKIP UBT

40

2013050040

ANICE ANDIHARTY

MAHASISWA FKIP UBT

41

2013050041

SITTI MARYANI

MAHASISWA FKIP UBT

42

2013050042

DEVI NOVIANTI

MAHASISWA FKIP UBT

43

2013050043

LILIS SULISTIANI

MAHASISWA FKIP UBT

44

2013050044

HASLINDA

MAHASISWA FKIP UBT

45

2013050045

SAHZRIE SUKUR

MAHASISWA FKIP UBT

46

2013050046

AHMAD FAGLIN

MAHASISWA FKIP UBT

47

2013050047

FUJIATI INDRIASARI

MAHASISWA FKIP UBT

48

2013050048

DESI ARSITA

MAHASISWA FKIP UBT

49

2013050049

DESI RATNASARI

MAHASISWA FKIP UBT

50

2013050050

INDRI NANDA PRATIWI

MAHASISWA FKIP UBT

51

2013050051

THERESIA

MAHASISWA FKIP UBT

52

2013050052

MARTINA

MAHASISWA FKIP UBT

53

2013050053

NOR IZZATY

MAHASISWA FKIP UBT

54

2013050054

ZAQIYAH AMALIA RILIATI

MAHASISWA FKIP UBT

55

2013050055

JANU WARSONO

MAHASISWA FKIP UBT

56

2013050056

SHINTA NURILIA

MAHASISWA FKIP UBT

Kamis, 23 Mei 2013

ANALISIS TES PILIHAN GANDA BERBASIS Ms. EXCEL

Program analisis soal pilihan ganda berbasis Ms. Excel ini dikembangkan sejak 2003. Dirancang dan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan guru. Bagi yang sudah memiliki Nomor Registrasi sebagai pengguna, maka software ini dapat di unduh di sini.

Minggu, 05 Mei 2013

KONDISI SOSIAL EKONOMI SMPN 7 DAN SMPN 6 TARAKAN 2013

Tulisan ini merupakan hasil  On the Job Learning (OJL) Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Calon Kepala Sekolah Tahun 2013.
Oleh: Drs. Muslimin Kanafi, M. Pd. Guru SMP Negeri 7 Tarakan.

A. SMP NEGERI 7
SMP Negeri 7 Tarakan menggunakan program aplikasi data siswa berbasis TI, sehingga informasi yang terkait dengan siswa dapat diperoleh dengan mudah, cepat, dan akurat. Salah satu informasi tersebut adalah tentang kondisi sosial ekonomi yang berhubungan dengan latar belakang orangtua/wali, yaitu pekerjaan, pendidikan dan penghasilan orangtua/wali siswa. Berikut adalah gambaran tentang latarbelakang orangtua/wali.
a. Pekerjaan Orangtua/Wali
Aneka latar belakang pekerjaan orangtua/wali siswa SMP Negeri 7 Tarakan digambarkan dalam grafik ini:
image
Grafik 1: Pekerjaan Orangtua/Wali Siswa SMP Negeri 7 Tarakan
Sekolah yang berada strategis di pusat kota ini ternyata memiliki siswa dengan orangtua/wali yang didominasi latarbelakang profesi sebagai wiraswasta (27%) dan karyawan swasta (26%). Kemudian disusul jauh lebih kecil, yakni 15% sebagai buruh dan 11% PNS/TNI/POLRI. Profesi nelayan sebesar 5%. Hal ini mengingat wilayah pesisir pantai sebelah barat Tarakan tidak jauh dari lokasi sekolah dan mudah dijangkau dengan transportasi umum angkutan kota (angkot). Sedangkan profesi lain, seperti petani, peternak, pedagang kecil, dan pedagang besar berjumlah kurang dari 5%.
b. Pendidikan Orangtua/Wali
Pendidikan orangtua/wali siswa SMP Negeri 7 Tarakan ternyata tidak begitu bervariasi. Orangtua/wali siswa yang berlatarbelakang pendidikan SMA/sederajat mendominasi. Yang berlatar belakang SD/sederajat dan SMP/sederajat jauh dibawahnya, yaitu 21% dan 20%. Orangtua/wali siswa yang berhak menyandang gelar sarjana hanya 6%. Yang bergelar magister pun ada, meski tidak banyak (2%). Tapi, masih ada orangtua/wali yang putus sekolah (1%) dan juga tidak sekolah (1%). Untuk lebih jelasnya, hal ini dapat dilihat pada grafik di bawah.
image
Grafik 2: Pendidikan Orangtua/Wali Siswa SMP Negeri 7 Tarakan

c. Penghasilan Orangtua/Wali
Penghasilan orangtua/wali, dalam program aplikasi data siswa, dikategorikan dalam 3 kelompok, pertama yang berpenghasilan di bawah 1 juta rupiah, kedua diantara 1 hingga 2 juta rupiah, dan yang ketiga di atas 2 juta rupiah. Hasil pengolahan data menunjukkan, bahwa penghasilan orangtua/wali siswa SMP Negeri 7 Tarakan ternyata hampir berimbang pada semua kategori, namun masih menggambarkan penghasilan di antara 1 hingga 2 juta adalah yang paling banyak (39%). Yang berpenghasilan di bawah 1 juta, hanya selisih 5%, yaitu 34%. Yang lebih dari 2 juta ada 27%. Data ini menunjukkan bahwa tingkat ekonomi orangtua/wali siswa SMP Negeri 7 Tarakan bisa digolongkan sedang. Untuk lebih jelasnya, gambaran penghasilan orangtua/wali siswa sekolah ini dapat dilihat pada grafik di bawah.
image
Grafik 3: Penghasilan Orangtua/Wali Siswa SMP Negeri 7 Tarakan

B. SMP NEGERI 6
SMP Negeri 6 Tarakan memiliki siswa sebanyak 590 orang yang terdiri dari 285 orang laki-laki dan 305 wanita. Informasi yang diperoleh dari tenaga administasi sekolah yang mana data diproses dengan menggunakan program aplikasi seperti halnya yang dilakukan di SMP Negeri 7, maka diperoleh juga gambaran latar belakang pekerjaan, pendidikan, dan penghasilan orangtua/wali.
a. Pekerjaan Orangtua/Wali
Sesuai dengan letak geografisnya, yaitu tidak jauh dari pesisir pantai, maka mayoritas orangtua/wali siswa memiliki pekerjaan sebagai nelayan. Wilayah juata laut dikenal sebagai salah satu tempat olah hasil laut secara konvensional, yaitu ikan asin tipis yang merupakan produk khas kota Tarakan, selain itu juga krupuk ikan, udang kering, dan lain-lain. Dengan hasil laut yang berlimpah ini, maka banyak ditemukan warga yang berprofesi sebagai wiraswasta.
Keberadaannya yang jauh dari pusat kota, dimana lahan di wilayah sekitar SMP Negeri 6 masih kebanyakan wilayah yang masih hijau yang didiami oleh warga yang menjadikannya sebagai lahan perkebunan. Maka tak heran kalau masih banyak orangtua/wali siswa yang berprofesi sebagai petani.
Selain masyarakat, terdapat juga perusahan besar yang mengolah hasil laut dan hasil hutan yang menjadi produk ekspor, yaitu 2 (dua) perusahan udang (PT. Mustika Aurora dan PT. Bonanza) dan 2 (dua) perusahaan kayu, yaitu PT. Chip Deco (khusus bakau) dan PT. Inhutani. Adanya perusahaan ini, maka urutan keempat terbesar profesi orangtua/wali siswa sebagi karyawan swasta. Untuk selanjutnya dapat dilihat pada grafik berikut:
image
Grafik 4: Pekerjaan Orangtua/Wali Siswa SMP Negeri 6 Tarakan
b. Pendidikan Orangtua/Wali
Gambaran latar belakang pendidikan orangtua/wali siswa SMP Negeri 6 dapat dilihat pada grafik berikut ini.
image
Grafik 5: Pendidikan Orangtua/Wali Siswa SMP Negeri 6 Tarakan
Grafik 5 di atas menunjukkan, bahwa latar belakang pendidikan orangtua/wali siswa mayoritas adalah masih rendah, yaitu 33%. Kemudian disusul dengan latar belakang orangtua/siswa berpendidikan SMA/sederajat, yaitu sebesar 26%. Urutan terbesar ketiga selanjutnya adalah berpendidikan SMP/sederajat. Namun demikian, masih ada orangtua/wali yang putus sekolah bahkan tidak sekolah. Sedangkan yang berpendidikan D4/S1 masih terbilang masih sangat sedikit.
c. Penghasilan Orangtua/Wali
Berikut ini adalah grafik yang memberikan gambaran tentang penghasilan orangtua/wali siswa SMP Negeri 6 dengan 3 (tiga) kategori: kurang dari 1 juta rupiah, antara 1 hingga 2 juta rupiah, dan diatas 2 juta rupiah.
image
Grafik 6: Penghasilan Orangtua/Wali Siswa SMP Negeri 6 Tarakan
Ternyata siswa SMP Negeri 6 Tarakan kebanyakan memiliki orangtua/wali dengan penghasilan di bawah 1 (satu) juta rupiah, yaitu dengan persentase terbesar (62%), disusul dengan yang berpenghasilan antara 1 hingga 2 juta rupiah. Sedangkan untuk orangtua/wali yang berpenghasilan di atas 2 (dua) juta hanya 7% saja. Hal ini menunjukkan bahwa kebanyakan orangtua/wali siswa masih berpenghasilan rendah.

image

image

Kamis, 02 Mei 2013

ANALISIS SOAL PILIHAN GANDA

Tulisan ini merupakan hasil pelaksanaan tindak kepemimpinan berdasarkan hasil Evaluasi Diri Sekolah (EDS) 2012 pada On the Job Learning (OJL) Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Calon Kepala Sekolah Tahun 2013.
Oleh: Drs. Muslimin Kanafi, M. Pd. Guru SMP Negeri 7 Tarakan.
PEMANFAATAN MS. EXCEL UNTUK ANALISIS SOAL BERBENTUK PILIHAN GANDA sebagai upaya peningkatan penyelenggaraan pendidikan di SMP Negeri 7 Tarakan
Analisis hasil tes memerlukan beberapa formula matematis. Karena itu, perlu pemahaman terhadap konsep-konsep formula tersebut dan juga kemampuan menerapkannya. Penghitungannya pun apabila dilakukan secara manual tentu saja memerlukan waktu yang tidak sedikit sehingga diperlukan sarana yang dapat membantu penghitungan ini.
Salah satu aplikasi yang umum dan sudah dikenal di semua kalangan masyarakat adalah Microsoft Excel. Software ini merupakan aplikasi pengolah data dan dapat digunakan untuk membuat penghitungan otomatis, termasuk analisis hasil tes. Namun hingga kini, aplikasi komputer ini belum digunakan secara optimal untuk hal tersebut.
a. Pelaksanaan Rencana Tindakan 1
1) Persiapan
Pada tahapan ini, upaya yang dilakukan adalah mengidentifikasi permasalahan guru dalam menganalisis soal berbentuk pilihan ganda. Masalah ini disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya:
a) Masih adanya guru yang belum begitu memahami dan mampu menerapkan penghitungan yang digunakan dalam menganalisis hasil tes;
b) Bagi guru yang sudah memahami dan mampu menerapkan penghitungan pun mengalami kejenuhan dalam melakukan analisis yang begitu rumit dan menyita waktu;
c) Meskipun di antara guru sudah dapat mengoperasikan komputer, khususnya aplikasi Microsoft Excel namun masih belum mampu membuat aplikasi sendiri yang dapat digunakan untuk menganalisis hasil tes;
d) Meskipun sudah beredar aplikasi siap pakai untuk pekerjaan ini di masyarakat, namun aplikasi tersebut tidak dapat dimodifikasi sesuai kebutuhan dan perubahan sistem evaluasi yang berkembang, kecuali dengan meng-upgrade aplikasi tersebut, dan tentu memerlukan biaya yang tidak sedikit; dan
e) Bagi guru yang mampu menganalisis dan juga mampu mengoperasikan aplikasi yang umum, yaitu Microsoft Excel, masih belum sepenuhnya menguasai bagaimana mengembangkan aplikasi tersebut dengan fasilitas penghitungan yang tersedia di dalamnya. Karena hal ini menuntut ketekunan guru dalam membuatnya.
Penyebab di atas menjadi inspirasi untuk membuat sendiri sebuah software ANALISIS TES PILIHAN GANDA dengan menggunakan software yang sudah dikenal secara luas, yaitu Ms. EXCEL. Pembuatan aplikasi ini didasarkan pada pengalaman selama menjadi guru Teknologi Informasi dan Komunikasi, khususnya materi Ms. Excel dan latar belakang pendidikan terakhir, yaitu evaluasi.
Aplikasi komputer yang dirancang dan dikembangkan dengan menggunakan perangkat lunak Microsoft Excel ini ditujukan untuk membantu rekan-rekan memahami dengan mudah konsep-konsep penghitungan yang digunakan dalam analisis tes berbentuk pilihan ganda berbasis kelas dan dengan cepat memperoleh hasil analisisnya, sehingga dapat diinterpretasikan dengan baik.
2) Pelaksanaan
Produk ini sudah sejak lama digunakan oleh rekan-rekan guru di SMP Negeri 7 Tarakan, bahkan menjadi bagian tugas yang dituntut oleh pihak sekolah dengan bukti fisik print outnya. Hingga pada tahapan ini masih ada guru yang melakukannya, yaitu mengoreksi hasil UTS yang baru saja dilewati. Selama ini pemanfaatan software ini hanya sebatas untuk mengoreksi, karena sangat membantu guru memperoleh hasil lebih cepat. Pada kesempatan OJL inilah, pemanfaatannya dilatihkan lebih jauh lagi.
3) Monitoring dan Evaluasi
Hasil pemantauan menunjukkan, bahwa guru-guru tidak menghadapi kendala serius dalam menginput data. Hal ini karena software sudah sejak lama digunakan. Instrumen evaluasi yang digunakan adalah angket untuk mengetahui sejauhmana tingkat pemahaman guru terhadap teori-teori pendukung software (pengetahuan prasyarat). Hasil angket dari 12 orang guru, adalah sebagai berikut: rendah sebanyak 2 orang, cukup 6 orang, dan yang tinggi 4 orang. Rata-rata untuk pengetahuan prasyarat ini adalah 48 masuk dalam klasifikasi cukup. Lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik berikut:
clip_image002
b. Pelaksanaan Rencana Tindakan 2
1) Persiapan
Langkah awal yang dilakukan sebelum pelaksanaan rencana tindakan 2 ini, adalah berdiskusi dengan kepala sekolah tentang upaya meningkatkan standar penilaian melalui analisis (telaah) butir soal pilihan ganda. Usul yang disampaikan adalah mengadakan pelatihan. Setelah mendapat respon positif dari kepala sekolah, maka upaya pertama adalah melakukan koordinasi dengan pihak terkait di sekolah, termasuk tenaga administrasi sekolah menyangkut kegiatan tersebut, di antaranya menyusun jadwal, mempersiapkan materi dan softwarenya, presensi, angket, undangan, ruangan, peralatan, dan konsumsi.
Akhirnya, kegiatan dijadwalkan pada hari Sabtu, tanggal 9 Maret 2013. Pelatihan dibagi menjadi 2 (dua) bagian: pertama, berisi penyampaian materi (teori) dan praktik input data, dan kedua berupa praktik nyata.
2) Pelaksanaan
a) Jadwal pelatihan
Pelatihan dibagi menjadi 2 (dua) sesi, pertama penyampaian materi pada hari Sabtu, 9 Maret 2013. Materinya adalah yang menyangkut teori tentang analisis butir soal pilihan ganda agar menjadi acuan untuk memahami hasil analisis, yaitu: pembelajaran tuntas (mastery learning) dan karakteristik butir soal (tingkat kesukaran dan validitas butir). Bagian kedua, praktik nyata menginput data dari hasil ulangan berbentuk pilihan ganda yang telah diujikan. Waktunya adalah selama 2 (dua) minggu setelah pelatihan bagian pertama dilaksanakan.
b) Materi
Penghitungan yang digunakan dalam menganalisis hasil tes bentuk pilihan ganda dapat digunakan guru untuk memperoleh informasi:
i. Mastery Learning
Bloom (1968) dan Block (1971) mengemukakan bahwa mastery learning (pembelajaran tuntas) merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang berdasarkan asumsi bahwa setiap siswa mampu mencapai tujuan pembelajaran dengan waktu dan cara yang berbeda (Woolfolk & Nicolich,1984: 572). Selanjutnya dijelaskan, bahwa dengan pendekatan ini siswa harus mencapai taraf penguasaan minimal yang ditentukan untuk bisa melanjutkan ke unit lainnya. Sebaliknya, siswa harus mengulanginya. Dengan kata lain data yang diperoleh dapat digunakan untuk mempertimbangkan upaya perbaikan (Depdikbud, 1999).
Ketidaktuntasan belajar dapat diketahui dengan menghitung persentase jumlah jawaban salah pada setiap butir soal. Dengan demikian dapat diketahui ketidaktuntasan pada kompetensi dasar, materi, atau pun indikator pencapaian hasil belajar baik secara individu ataupun klasikal. Hal ini penting untuk pengembangan tes diagnostik. (Depdiknas, 2003)
ii. Karakteristik Butir Soal
a. Tingkat Kesukaran (Item Difficulty)
Tingkat kesukaran menunjukkan kualitas butir soal apakah termasuk mudah, sedang, atau sukar. Tingkat kesukaran ini diperoleh dengan menghitung persentase jumlah jawaban siswa yang benar. Butir soal dikatakan mudah jika sebagian besar peserta tes menjawab dengan benar dan sebaliknya, dikatakan sukar jika sebagian besar tidak dapat menjawab dengan benar. Fernandes (1984: 26) memberikan 2 (dua) alasan pentingnya menentukan tingkat kesukaran, yaitu:
(1) Menentukan rerata skor yang sama dengan p x n, dimana p adalah rerata kesukaran butir sedangkan n jumlah butir;
(2) Mempengaruhi bentuk dan sebaran skor tes
b. Validitas Butir
Validitas butir dapat dihitung menggunakan formula Product-moment Correlation yang mengkorelasikan antara skor butir dengan skor totalnya (Fernandes. 1984: 28). Validitas butir adalah sama dengan validitas kunci. Dengan rumus yang sama dapat ditemukan validitas pengecohnya. Hanya saja dalam interpretasinya berbeda. Butir tidak valid dinyatakan dengan koefisien negatif, sedangkan untuk pengecoh adalah koefisien positif.
3) Monitoring dan Evaluasi
Pemantauan dilakukan selama praktik nyata menggunakan hasil tes yang telah diberikan sekaligus pendampingan saat rekan guru melakukan analisis dengan software yang diberikan. Selama praktik nyata input data, kendala yang dihadapi hampir tidak ada, hanya kendala teknis, seperti terhapusnya rumus dalam sel secara tidak sengaja. Kendala ini dapat segera teratasi.
Instrumen yang digunakan juga berupa angket untuk mengetahui:
a) Tingkat pemahaman pengguna terhadap software yang diberikan. Dalam hal ini diperoleh 3 (tiga) orang tergolong tinggi, yang sangat tinggi sebanyak 9 orang. Rata-ratanya 93 (sangat tinggi);
b) Peningkatan pemahaman pengetahuan prasyaratnya, ada 1 orang masih rendah, 2 orang cukup, 4 orang tinggi, dan 4 orang sangat tinggi. Rata-rata peningkatan pemahaman adalah tinggi (67)
Gambaran perolehan angket hasil evaluasi baik pada pengetahuan prasyarat, pemahaman software, maupun peningkatan pemahaman pengetahuan prasayaratnya, dapat dilihat pada grafik ini:
clip_image004
4) Refleksi
Upaya yang dilakukan selama pelaksanaan tindakan ini memberikan pengalaman berharga bagaimana mengupayakan untuk meningkatkan kompetensi yang dimiliki oleh rekan-rekan guru, sehingga mendukung proses pendidikan yang terjadi di sekolah. Dengan demikian, diharapkan terjadi suasana kondusif di lingkungan sekolah, khususnya guru, untuk meningkatkan lebih jauh kompetensinya, terutama kemampuan menelaah dan menginterpretasi hasil ulangan yang diberikan kepada siswanya.
5) Hasil
Pengalaman nyata di dunia kepemimpinan ini sungguh tidak dapat dielakan lagi tidak hanya meningkatkan kualitas diri tetapi juga kualitas penyelenggaraan yang ada di SMP Negeri 7 Tarakan, yaitu meningkatkan standar penilaian melalui peningkatan kemampuan guru dalam menelaah butir soal pilihan ganda.
Demikian, semoga bermanfaat.
Foto-foto:
clip_image006
Menjelaskan teori analisis soal pilihan ganda
clip_image008
Membimbing guru menganalis hasil ulangan

Selasa, 20 April 2010

Memory Games toward English Vocabulary Mastery

Memorial Games in My English Teaching

 

Memorial Games toward English Vocabulary Mastery

 

Belajar suatu bahasa ibarat belajar mendirikan sebuah bangunan. Semua orang maklum bahwa bangunan itu dibuat dari bahan-bahan bangunan, seperti batu bata, kerikil, semen, kayu, dan sebagainya. Bahasa bak sebuah bangunan itu. Dia tersusun dari bahan-bahan penyusunnya, yaitu kosakata. Kosa kata inilah bak bahan bangunan itu. Kalau kita ingin mendirikan bangunan yang kecil, maka bahan bangunan yang diperlukan tidak begitu banyak, tetapi apabila kita menginginkan yang lebih besar berarti bahan bangunannya juga lebih banyak. Dengan kata lain, semakin banyak bahan bangunan yang tersedia, maka semakin besar bangunan yang bisa kita peroleh. Begitu juga dengan bahasa, semakin banyak kosa kata yang dimiliki seseorang, maka semakin luas bahasa yang dikuasainya.

Pengalaman yang telah dilakukan penulis, saat siswa bimbingan belajar menghadapi UN, mereka diberikan soal UN tahun sebelumnya, kemudian menganalisis hasilnya, lalu dilakukan pembahasan, salah satu caranya adalah dengan memberikan arti kata, kemudian siswa menjawab ulang. Ternyata kebanyakan siswa menjawab dengan benar. Dari beberapa pengujian kosa kata, kebanyakan dari mereka tidak dapat mengingatnya, meskipun kosa kata tersebut sederhana dan sering digunakan dalam buku-buku bahasa Inggris yang mereka pelajari. pun tidak Hal ini, penulis mengambil kesimpulan, bahwa penguasaan kosa kata akan mempengaruhi nilai perolehan peserta didik. Hal ini ditunjukkan dengan hampir semua soal-soal yang sukar, setelah diberitahukan arti kata, satu atau lebih, mereka mampu menjawab dengan benar, atau soal menjadi lebih mudah.

Dari pemikiran dan pengalaman inilah, maka hal yang paling mendasar dalam mempelajari suatu bahasa adalah dengan memperkaya kosa kata. Terkait dengan proses pembelajaran bahasa Inggris, maka kosa kata bahasa Inggris harus banyak dimiliki oleh semua siswa yang mempelajarinya. Sisi ini lah yang harus ditingkatkan porsinya dalam proses tersebut. Yang menjadi permasalahannya adalah, bagaimana cara 'menanamkan' kosa kata yang sebanyak-banyaknya kepada peserta didik? Mampukah mereka menguasai kosa kata sebanyak mungkin? Bisakah kosa kata yang telah mereka miliki bertahan lama, sehingga mereka dapat menggunakannya pada saat menghadapi tes bahasa Inggris? Dan, banyak lagi pertanyaan yang muncul dalam benak kita. 

Apa itu Memorial Games?

Penulis adalah mantan guru Komputer (TIK). Dulunya, penulis mengajar komputer dan juga bahasa Inggris. Dengan berbekal pengalaman ini penulis berupaya mengembangkan suatu bentuk pendekatan pembelajaran bahasa Inggris yang menggunakan pola kerja yang ada pada komputer, yaitu adanya memori. Hanya saja pendekatan ini dimodifikasi sebagai sebuah game (permainan) dengan tujuan peserta didik bisa belajar sambil terhibur (edutainment).

Ada dua tahapan dalam memorial game ini, yaitu: FEEDING dan LOADING

  1. Feeding

Feeding berarti memberi makan. Seseorang yang ingin membesarkan tubuhnya, maka ia harus memberi makan dirinya melalui mulut, sedangkan upaya untuk 'memberi makan' otaknya dengan informasi atau pengetahuan dilakukan lewan pancainderanya. Indera yang paling dominan dalam proses pembelajaran bahasa Inggris adalah indera penglihatan dan pendengaran, yaitu mata dengan cara membaca, dan telinga dengan cara mendengarkan. Melalui kedua indera inilah kosa kata ini masuk ke ingatan (memori) para pelajar.

Tahapan ini merupakan tahapan pengisian memori siswa dengan kosa kata. Woolfolk (….) mengatakan bahwa untuk memasukkan suatu informasi kedalam long-term memory, salah satu caranya adalah dengan repetition (pengulangan). Di sini penulis mengupayakan pengulangan paling sedikit adalah 3 (tiga) kali.

Ada 3 langkah dalam upaya ini:

  1. Langkah 1: Mendengar/membaca

    Pada langkah ini, siswa mendengarkan sekelompok kata yang diberikan artinya. Hal ini dilakukan tanpa menulis apapun dengan tujuan melatih mempertahankan pengetahuan (kosa kata) pada memori mereka. Pada awalnya, diberikan antara 10 hingga 15 kata. Untuk kemudian ditingkatkan lebih banyak lagi.

  2. Langkah 2: Menulis

    Kosa kata yang telah diberikan pada langkah 1, ditulis kembali oleh siswa beserta artinya. Mereka menghitung berapa banyak kosa kata yang dapat mereka ingat. Hal ini dilakukan agar mereka dapat mengetahui perkembangan jumlah kosa kata yang mampu mereka ingat pada game selanjutnya.

  3. Langkah 3: Menulis

 

….. (bersambung)